RSS

Makalah Pengamalan dan Aktualisasi Nilai-nilai Agama pada Anak-anak dan Balita

23 Okt

BAB I

PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang

Di antara amanat Allah SWT yang agung dan indah namun juga berat adalah anak, karena fase kanak-kanak merupakan fase yang sangat penting bagi seorang pendidik (para orangtua maupun guru) untuk menanamkan prinsip yang lurus dan pengarahan yang benar ke dalam jiwa anak. Kesempatan ini terbuka lebar mengingat anak-anak masih memiliki fitrah yang suci, jiwa yang bersih, dan hati yang belum terkontaminasi debu-debu dosa. Seorang anak secara fitrah diciptakan dalam keadaan siap untuk menerima kebaikan dan keburukan.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, maka hanya kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi “. (HR. Bukhari dalam Rahman, 2005 : 23)

Jika seorang pendidik bisa memanfaatkan dengan baik, maka peluang keberhasilan membina fase-fase berikutnya akan lebih besar. Dengan demikian anak akan menjadi seorang mukmin yang tangguh, kuat dan energik. Bagi yang ingin meneladani pendidikan yang sebenarnya, Muhammad SAW adalah contoh pendidik yang amat jitu dalam menyiapkan generasi Qur’ani.

Didalam UU Nomor 2 Tahun 1989 dikemukakan bahwa pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan, dan di selenggarakan pada semua jenjang pendidikan. Dalam pengertian ini, pendidikan keagamaan merupakan salah satu bahan kajian dalam kurikulum semua jenis dan jenjang pendidikandi Indonesia.

Masa kecil anak merupakan masa persiapan, latihan dan pembiasaan. Melalui pembiasaan yang baik akan berpengaruh bagi kehidupan selanjutnya Sehingga mereka sudah memasuki masa dewasa, yaitu pada saat mereka mendapatkan kewajiban dalam beribadah, segala jenis ibadah yang Allah wajibkan dapat mereka lakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, karena sebelumnya mereka sudah terbiasa melakukan ibadah tersebut.

B.                 Rumusan Masalah

Rumusan masalah ini dimaksudkan agar makalh ini tidak melebar permasalahannya, sehingga mudah untuk memahami hasilnya. Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan di atas, maka rumusan masalahnya adalah:

  1. Pengamalan nilai-nilai agama apa saja yang bisa di tanamkan anak sejak ia masih balita?
  2. Bagaimana si anak bisa mengaktualisasikan nilai-nilai agama tersebut?

C.                Tujuan

Suatu kegiatan tertentu pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai, demikian pula dengan makalah ini. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari makah ini adalah: Untuk mengetahui bagaimana pengamalan serta aktulisai  nilai-nilai agama Islam yang di tanamkan pada balita dan anak-anak.

BAB II

PEMBAHASAN

Bermacam-macan cara pembagian umur pertumbuhan yang dibuat oleh para ahli jiwa. Tetapi pada umumnya perbedaan yang terdapat antara mereka tidaklah dalam hal-hal yang pokok. Kita disini akan mengambil salah satu pendapat yang membagi umur anak kepada masa bayi (0-2 Tahun) masa pra skolah ( 3-6 Tahun), masa anak (6-12 tahun), masa remaja (13-21 Tahun) dan masa dewasa diatas umur 21 tahun. Ketiga tahap umur tersebut mempunyai cirri keistimewaan dan kelemahanya masing – masing. Dengan mengetahui cirri-ciri tersebut akan mudah bagi seorang pendidik, menghadapi anak didiknya, serta dapat melaksanakan pendidikan bagi mereka.

A.    Masa Bayi / Balita (0- 2 tahun)

Pendidikan agama dalam artian pembinaan kepribadian, yang sebenarnya telah dimulai sejak si anak lahir, bahkan sejak si anak dalam kandungan. Memang diakui bahwa penelitian terhadap mental janin yang dalam kandungan, mempengaruhi jiwa anak yang akan dilahirkan nanti, hal ini banyak terbukti dalam perawatan jiwa.

Pada tahap ini, bayi yang baru lahir baru melakukan gerakan refleks yang pertama kearah mengenal pengetahuan dunia luar (lingkungan, keluarga ). Usia ini juga yang di sebut stadium perkembangan sensomotorik ( penglihatan , smell, perasa, peraba, pendengaran). Hubungannya dengan pemberian nilai-nilai agama bahwa ketika baru lahir :

¶    Di kumandangkan Adzan dan Iqomah

Ada sebuah hadits yang mengatakan: ”Aku melihat Rasullallah mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkan ( Abu Dawud dan Tirmidzi).”

¶    Cukur Rambut dan Aqiqah

Rasulullah Saw bersabda: ”Setiap anak itu di gadaikan dengan aqiqahnya. Ia di sembelihkan ( binatang ) pada hari ke tujuh pada kelahirannya di beri nama pada itu juga dan di cukur kepalanya. (Ashabus Sunan)

¶    Pemberian nama yang baik

Menurut Arnold gessel, bayi sudah mempunyai perasaan ketuhanan. Perasaan ini disertai kemampuanya dalam bahasa yaitu mengucapakan satu atau dua kata dan meniru kata-kata. Potensi ini dapat dijadikan dasar untuk mengaktualisasikan nilai-nilai agama melalui kegiatan:

  1. Mengenalkan konsep-konsep atau nilai-nilai agama kepada bayi melalui bahasa, seperti takbir, tahmid, dan tasbih.
  2. Memperlakukan bayi dengan penuh kasih sayang dari orang tua sebelum mengenal kasih sayang Tuhan.

Pada intinya, pertumbuhan akan rasa agama pada anak telah di mulai sejak si anak dan bekal itulah yang dibawanya ketika masuk sekolah untuk pertama kalinya.

B.                Masa Pra Sekolah ( Usia 3-6 tahun)

Pada tahap ini masa yang sangat penting, baik itu dalam hal fisik, psikis, kematangan IQ dan EQ anak di tentukan pada masa itu. Para ahli menyebutnya masa “Golden Age“          ( masa ke emasan ). Dengan kesucian dan kepolosan para balita, tahap ini menerima semua nilai – nilai reaksi dari luar tanpa penolakan dan terekam dalam otaknya.

Sifat khusus balita ini adalah “Ego Centris“ (semua milik /untuk ku). Sikapnya tidak lagi reflek, Ia sudah dapat mereaksi dan mengantisipasi untuk meniru sesuatu. Sangat tepat kiranya orang tua memberi warna pada masa ini. Apakah warna merah, putih, hitam dan lain sebagainya. Orang tuanya-lah dan lingkungan yang berperan pada balita suci ini.

Apa bila kita melewati masa ini maka kita akan melewati masa-masa penting dalam membentuk konsep diri si anak pada masa dewasanya nanti. Padahal “ Konsep Diri “ adalah modal utama untuk menjalani kehidupan dengan baik.

Zakiyah Darajat berpendapat bahawa masa pra sekolah merupakan masa paling penting untuk menanamkan rasa agama dan usia penumbuhan kebiasaan agama. Perkembangan fitrah beragama pada masa pra sekolah ditandai dengan cirri-ciri:

  1. Sifat keagamaan yang bersifat reseptif ( menerima) meskipun sudah banyak bertanya.
  2. Pandangan ketuhanan yang bersifat anhtropormorp (dipersonifikasikan).
  3. Pengahayatan rohaniah yang masih superficial ( belum mendalam, masih diper mukaan).
  4. Pemahaman ketuhanan yang ideocyncritic ( menurut khayalan dirinya).

Pendidikan agama dalam keluarga sebelum si anak masuk sekolah, terjadi secara formil. Pendidikan agama pada umur seperti ini dimulai dengan semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan dan sikap yang dilihatnya, maupun perlakuan yang dirasakannya. Oleh karena itu, keadaan orang tua dalam kehidupan mereka sehari-hari memepunyai pengaruh yang sangat besar dalm pembinaan kepribadiaan anak.

Si anak mulai mengenal Tuhan dan agama, melalui orang- orang dalam lingkungan tempat mereka hidup. Jika mereka lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang beragama, mereka akan mendapat pengamalan agama itu dimulai dari ucapan, tindakan dan perlakuan.

Tindakan dan perlakuan orang tua yang sesuai dengan ajaran agama, akan menimbulkan padda sianak pengalaman- pengalaman hidup yang sesuai dengan agama, yang kemudian akan bertumbuh menjadi unsure- unsure yang merupakan bagian dalam p[ribadinya nanti.

Atas dasar diatas itu, maka nilai- nilai aktualisasi pada anak pra sekolahmelalui kegiatan kegiatan yang relevan dengan perkembangannya, antara lain:

  1. Pengajaran rukun iman, rukun islam, doa- doa dan riwayat para nabi.
  2. Pelatihan dan pembiasaan akhlak karimah.

 C.         Masa Anak/ Sekolah ( Usia 6-12 tahun)

Pada tahap ini, si anak beralih dari memusatkan diri pada apa yang ada di dalam dirinya kepenemuan dunia diluar dirinya dan ramahnya sifat sosialnya tumbuh secara baik, dengan ia mulai sekolah.

Sosialisasinya pada lingkungan lebih luas ada teman – temannya, guru, lingkungan sekolah. Tanggung jawab pendidik dan penanaman nilai – nilai agama terbagi kepada guru. Maka orang tua harus cermat memilih sekolah-sekolah yang baik ( secara akademis dan agama ).

Ketika si anak masuk sekolah dasar, dalam jiwanya ia telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya dari orang tua dan gurunya  di taman Kanak – kanak. Andaikata pendidikan agama yang diterimadari orang tuannya dirumah sejalan dan serasi dengan apa yang diterima dari gurunya di Taman Kanak- kanak, maka ia masuk sekolah dasar telah membawa dasar agama yang bulat (Serasi), akan tetapi jika berlainan , maka yang dibawanya adalah keragu- raguan, ia belum dapat memikirkan mana yang benar apakah agama orang tuanya atau agama gurunya. Yang ia rasakan adalah adanya perbedaan kedua- duanya, masuk kedalam pembinaan pribadinya.

Pada masa perkembangan fitrah beragama pada anak ditandai dengan cirri- ciri:

  1. Sikap keagamaan yang bersifat reseptif tetapi sudah disertai pengertian.
  2. Pandangan pemahaman ketuhanan secara rasional melalui indicator alam semesta.
  3. Penghayatan rohaniah semakin mendalam dan penerimaan ritual sebagai keharusan moral.

Oleh karena itu, sudah menjadi kehusan bagi setiap guru agama pada sekolah dasar, harus menyadari betul- betul bahwa anak-anak didik yang dihadapinya itu telah membawa bekal agama dal pribadinya masing-masing. Maka setiap guru agama di sekolah dasar, hendaknya memahami betul-betul perkembangan jiwa anak pada masa sekolah dasar yang berkisar anatra ± 6 sampai 12 tahun.

Guru agama harus ingat bahwa anak bukanlah orang dewasa yang kecil, artinya apa yang cocok untuk orang dewasa, tidak akan cocok untuk anak- anak. Penyajian agama bagi anak, harus sesuai dengan pertumbuhan jiwa anak dengan cara yang lebih konkrit, dengan bahasa yang sederhana serta banyak bersifat latihan dan pembiasaan yang menumbuhkan nilai-nilai dalam kepribadiannya.

Sembahyang dan berdoa sangat menarik bagi anak pada umur ini karena mengandung gerakan yang tidak asing baginnya. Doanya bersifat pribadi misalalnya memohon sesuatu yang diinginkanya, minta ampun akan kesalahannya, dan minta tolong ats hal-hal yang tidak mampu ia mencapainya.

Secara sederhana, aktualisasi nilai-nilai agama pada anak masa usia ini bisa melalui kegiatan:

  1. Pengembangan pemahaman nilai- nilai agama ( akidah, ibadah, dan akhlak)
  2. Pemberian latihan dan pembiasaan keagamaan ( ibadah dan akhlak)

Terkait dengan upaya pengamalan nilai agama pada anak agar berakhlak mulia, Imam Al-Ghazali memberikan fatwa kepada para orangtua agar mereka melakukan kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Menjauhan anak dari pergaulan yang tidak baik.
  2. Membiasakan anak untuk bersopan-santun.
  3. Memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal shalih, misalnya berperilaku sopan, dan menegur anak yang melakukan perbuatan buruk.
  4. Membiasakan anak untuk berpakaian yang bersih dan rapih.
  5. Menganjurkan anak untuk berolahraga.
  6. Menanamkan sikap sederhana kepada anak.
  7. Mengizinkan anak untuk bermain setelah belajar.

BAB III

PENUTUP

A.           Kesimpulan

Manusia merupakan makhluk Allah yang dianugrahi potensi untuk mengimani Allah dan mengamalkan ajaran-Nya. Karena fitrah inilah manusia dijuluki homo religius, makhluk beragama.

Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau peluang untuk berkembang. Namun dalam perkembangannya manusia sangat tergantung kepada proses pendidikan yang diterima (faktor lingkungan).

Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk pada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah dan pengaktualisasiannya melalui peribadatan kepada-Nya., baik yang bersifat hablumminallah dan hablumminanas. Keimanan kepada Allah dan aktualisasinya dalam ibadah merupakan hasil dari internalisasi, yaitu proses pengenalan, pemahamamn, dan kesadaran pada diri seseorang terhadap nilai-nilai agama.

B.            Saran

Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini bisa di jadikan bahan pembalajaran, tentang bagaimana cara pengamalan serta aktulisasi nilai-nilai agam yang diberikan pada anak-anak sejak usia dini yaitu sejak anak itu dilahirkan.

DAFTAR PUSTAKA

 

–                      Ilmu Jiwa Belajar PAI

–                      http://aliyahcijulang.wordpress.com/2010/04/12/makalah-internalisasi-nilai-agama/

–                      http://naritha.multiply.com/journal/item/5/Pengalaman_amp_Aktualisasi_Nilai_Agama_pada_Balita

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Oktober 2011 in PSIKOLOGI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: